Notification

×

Iklan

Iklan


Menelusuri Kasus Tragis Sukiyem: Kisah Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Perjuangan Ekonomi

Minggu, 07 Januari 2024 | Januari 07, 2024 WIB | 0 Views Last Updated 2024-01-07T13:36:31Z

 

Menelusuri Kasus Tragis Sukiyem: Kisah Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Perjuangan Ekonomi

EKSEMPLAR.COM - Kekerasan dalam rumah tangga adalah isu yang sangat mengkhawatirkan yang terus memengaruhi kehidupan secara global. 


Dalam insiden baru-baru ini yang memilukan di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), seorang nenek berusia 56 tahun bernama Sukiyem kehilangan nyawanya dengan cara yang mengerikan. 


Pelaku yang diduga? Suaminya sendiri, yang dalam peristiwa mengejutkan, mencoba bunuh diri setelahnya.


Pada pagi 5 Januari 2024, Sukiyem ditemukan tak bernyawa, berlumuran darah, di rumahnya. Kepolisian setempat, khususnya Kepolisian Gunungkidul, dengan cepat memulai penyelidikan atas kejahatan tersebut. 


Laporan awal menunjukkan bahwa suami Sukiyem, yang dikenal sebagai R (58 tahun), diduga melakukan tindakan keji tersebut dengan menggunakan pisau. Mengganggu, R ditemukan di tempat kejadian, mencoba bunuh diri.


Saat polisi menyelidiki tempat kejadian perkara, mereka menemukan luka tusuk dan sayatan pada perut dan leher Sukiyem. 


Tanda-tanda kekerasan dalam rumah tangga sebelum pembunuhan tersebut jelas terlihat, yang mengarahkan otoritas untuk mengkategorikan kasus ini sebagai serangan fatal yang berasal dari kekerasan dalam rumah tangga.


Pemeriksaan lebih lanjut oleh Unit Investigasi Forensik (Inafis) sedang berlangsung untuk mengungkap kronologi lengkap insiden tersebut. 


Temuan awal menunjukkan bahwa Sukiyem mungkin menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga sebelum ajal tragisnya.


Satu pengungkapan mengerikan dalam kasus ini adalah motif potensial di balik tindakan brutal itu - kesulitan ekonomi. 


Sukiyem dan R, pasangan suami istri, dilaporkan tinggal sendirian sementara anak-anak mereka bekerja di distrik lain. 


Pihak berwenang menemukan surat yang dikirim R kepada saudaranya, yang isinya sedang diteliti secara menyeluruh.


Tekanan ekonomi, yang diperburuk oleh situasi kehidupan mereka, tampaknya telah mendorong R untuk melakukan tindakan mengerikan tersebut. 


Penyelidikan ini menyingkap kompleksitas kekerasan dalam rumah tangga, yang seringkali berakar pada berbagai masalah di luar perselisihan fisik.


Berita tentang kematian tragis Sukiyem menyebabkan kekagetan di masyarakat. Keponakannya, Erni Susilawati, menerima kabar menyedihkan itu pagi-pagi sekali dan segera menuju tempat kejadian perkara.


 Keluarga, yang sudah bergumul dengan kehilangan, semakin traumatis dengan pemandangan mengerikan tersebut.


Erni menekankan bahwa sebelumnya tidak ada tanda-tanda konflik atau perselisihan dalam rumah tangga antara Sukiyem dan R. 


Pasangan tersebut tampaknya menjalani kehidupan yang relatif damai, dengan Sukiyem bekerja di kedai makan setempat sementara R kadang-kadang merawat rumah mereka.


Saat kita merenungkan insiden yang menyayat hati ini, sangat penting untuk meningkatkan kesadaran tentang kompleksitas kekerasan dalam rumah tangga dan urgensi adanya sistem pendukung. 


Tantangan ekonomi dapat memperburuk stres dalam rumah tangga, dan mengatasi masalah-masalah yang mendasari ini sangat vital dalam mencegah hasil tragis seperti ini.


Untuk mengenang Sukiyem dan banyak orang lain yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, mari kita berupaya untuk menciptakan masyarakat yang menumbuhkan empati, kepedulian, dan dukungan bagi mereka yang membutuhkan.***